Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

BEBERAPA DALIL YANG SHAHIH TENTANG PUASA AYYAMULBIDH

 

BEBERAPA DALIL YANG SHAHIH TENTANG PUASA AYYAMULBIDH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu PUASA SUNNAH yang sangat dianjurkan adalah puasa ayyamulbidh yaitu puasa tiga hari berturut turut dipertengahan bulan dari tahun hijriah. DALIL TENTANG PERINTAH PUASA INI sangatlah jelas dan kuat yaitu sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam   :

Pertama : Hadits dari Abu Dzaar,  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :  

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

Wahai Abu Dzaar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.  (H.R at Tirmidzi  dan An Nasai, Abu Isa at Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini Hasan).

Kedua : Hadits dari Ibnu Milhan Al Qaisi, dari ayahnya, ia berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah). Dan beliau bersabda : Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun. (H.R Abu Daud  dan an Nasa-I, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Ketiga : Hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar. (H.R an Nasa-i, Syaikh al Albani mengatakan bahwa hadits ini Hasan).

Keempat : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati : (1) Berpuasa tiga hari setiap bulannya. (2) Mengerjakan shalat Dhuha. (3) Mengerjakan shalat witir sebelum tidur. (H.R Imam Bukhari)

Oleh karena itu hamba hamba hamba Allah hendaklah berusaha untuk selalu bersemangat  mengamalkannya. Sungguh dalilnya shahih dari Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam.

Selain itu ketahuilah bahwa salah satu keutamaan berpuasa adalah sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam :

قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, PUASA ADALAH PERISAI, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya. (H.R. Imam Ahmad).

Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah menjelaskan : Maksudnya puasa adalah penghalang antara dirinya dengan api neraka, ini mencakup puasa yang wajib seperti puasa Ramadhan dan juga puasa sunnah seperti puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa Dzulhijjah, puasa Arafah, dan puasa ‘Asyura. (Lihat al Minhatu ar Rabaniyyah fii Syarhi al Arba’in an Nawawiyyah).

Wallahu A'lam. (3.362)

 


BALASAN AMAL SHALIH JUGA DINIKMATI DI ALAM BARZAKH

 

BALASAN AMAL SHALIH JUGA DINIKMATI DI ALAM BARZAKH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh,  beberapa saat setelah berada di  kubur atau di alam barzakh manusia akan ditanya  dengan tiga pertanyaan.  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

فِى الْقَبْرِ إِذَا قِيلَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ وَمَا دِينُكَ وَمَنْ نَبِيُّكَ

Di dalam kubur akan ditanyakan : (1)  Siapa Rabbmu. (2) Apa agamamu dan (3) Siapa Nabimu. (H.R Imam Bukhari, Imam Muslim dan juga at Tirmizi. At Tirmizi mengatakan bahwa hadits ini Hasan Shahih).

Sewaktu di dunia kita sudah dapat bocoran tentang pertanyaan yang harus kita jawab  di alam kubur. Dengan begitu mestinya bisa mudah menjawabnya. Tetapi sungguh TIDAKLAH MUDAH MENJAWAB TIGA PERTANYAAN ITU. Apalagi bagi orang orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat, orang munafik dan orang kafir.

Tiga pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan iman yang dimiliki seorang hamba. Sungguh bagi orang orang yang beriman maka Allah Ta'ala akan meneguhkan hati mereka dengan ucapan yang teguh. Allah Ta'ala berfirman :

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan (Allah) memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Q.S Ibrahim: 27).

Syaikh as Sa'di berkata : Allah Ta'ala memberi tahukan bahwa Dia meneguhkan (hati) para hamba-Nya yang beriman. Yaitu orang orang yang melaksanakan kewajiban mereka berupa keimanan hati yang sempurna, yang berkonsekwensi pelaksanaan amalan amalan fisik dan mengembangkannya.

Syaikh menambahkan : Sedangkan di alam kubur nanti, saat menghadapi pertanyan dua malaikat (maka Allah Ta'ala meneguhkannya) dengan (memudahkannya untuk) menjawabnya dengan JAWABAN YANG BENAR ketika ditanyakan kepada mayit : Siapa Rabb-mu ?. Apa agama-mu ?. Dan siapakah Nabi-mu ?.

Allah Ta'ala memberi anugerah kepada mereka (orang orang yang beriman ini) untuk menjawab  dengan benar yaitu : Allah Rabb-ku, Islam agama-ku dan Muhammad Nabi-ku. (Tafsir Karimir Rahman)

Sungguh orang orang beriman dan beramal shalih juga akan mendapatkan balasan berupa nikmat kubur. Dari Bara’ bin ‘Azib, dia berkata bahwa  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda tentang orang orang beriman yang apabila telah menjawab pertanyaan dua Malaikat di alam kuburnya, maka :

فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَالسَمَاءِ أنْ قَدْ صَدَقَ عَبْدِي فَأَفْرِ شُوهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنْ الْجَنَّةِ قَالَ فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْتَحُ لَهُ فِيهَا مَدْ بَصَرِهِ

Terdengarlah suara yang memanggil dari langit : Sesungguhnya hamba-Ku telah berkata jujur. Maka hamparkanlah kepadanya hamparan dari surga. Pakaikan kepadanya pakaian dari surga dan bukakan baginya pintu menuju surga !.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam melanjutkan sabda beliau : Maka sampaikan kepadanya keharuman bau surga serta lapangkan kuburnya sejauh mata memandang. (H.R Imam Ahmad dan Abu Dawud, dalam satu hadits yang panjang).    

Selain itu, diantara balasan berupa nikmat kubur adalah dibukakan pula baginya satu celah ke arah surga   sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam :

 ثُمَّ يُفْرَجُ لَهُ قِبَلَ اْلجَنَّةِ فَيَنْظُرُ إِلىَ زَهْرَتِهَا وَ مَا فِيْهَا فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا مَقْعَدُكَ وَ يُقَالُ لَهُ: عَلىَ اْليَقِيْنِ كُنْتَ وَ عَلَيْهِ مُتَّ و عَلَيْهِ تُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ

Lalu dibukakan untuknya satu celah ke arah surga maka ia melihat hiasan dan segala isinya. Dikatakan kepadanya : Inilah tempatmu, di atas keyakinan ini engkau dahulu berada, di atasnya pula engkau mati dan di atasnya pulalah engkau akan dibangkitkan insya Allah. (H.R Ibnu Majah  dan Imam  Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Sungguh beruntung orang orang yang beriman dan beramal shalih ketika di dunia. Wallahu A'lam. (3.363)

 


HAMBA ALLAH BENAR BENAR BERHARAP AMALNYA DITERIMA

HAMBA ALLAH BENAR BENAR BERHARAP AMALNYA DITERIMA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hamba hamba Allah selalu berusaha sungguh sungguh melakukan amal shalih sebagaimana yang diperintahkan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Sungguh, amal shalih yang dilandasi iman adalah MODAL PALING PENTING untuk keselamatan diri di akhirat yaitu mendapat surga-Nya. Dalam perkara ini, Allah Ta'ala berfirman, diantaranya  :

Pertama : Dalam surat an Nisa' 122.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلًا

Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Mereka kekal di dalamnya selama lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah ?. (Q.S an Nisa' 122).

Kedua : Dalam surat al Buruj 10.   

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sungguh, orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka akan mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai, itulah kemenangan yang agung. (Q.S al Buruj 11)

Syaikh as Sa’di berkata : Sesungguhnya iman  menjadi syarat sahnya amal shalih. Bahkan tak bisa disebut amal shalih kecuali disertai dengan iman. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Tetapi setelah beribadah atau melakukan amal shalih terkadang ada muncul perasaan APAKAH AMAL KEBAIKAN yang saya lakukan diterima. Namun demikian ketika kita telah melakukan amal shalih maka hati menjadi tenang. Lalu kedepankan dua perkara :

Pertama : Sikap berbaik sangka kepada Allah Ta'ala bahwa amal kita akan diterima.

Sungguh, Allah Ta'ala mengingatkan dalam satu hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِيْ خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ.

Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berbaik sangka, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika berprasangka buruk, maka ia mendapatkan keburukan. (H.R Imam Ahmad).

Syaikh Muhammab bin Shalih al Utsaimin mengatakan : Bahwa Allah akan berbuat mengikuti prasangkaan para hamba-Nya terhadap diri-Nya,  apabila ia berprasangka baik, maka Dia akan melakukannya (sesuai prasangkaan baik itu), dan jika ia berprasangka buruk maka Dia juga akan melakukannya (sesuai prasangkaan buruk itu). (Syarh Riyadhus Shalihin).

Kedua : Banyak berdoa agar amal diterima. Diantara lafazh doa yang dianjurkan untuk dibaca adalah :

(1) Doa Nabi Ibrahim. Perhatikanlah kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalam, yaitu setelah melakukan amalan  besar, yang diperintahkan Allah, yaitu meninggikan fondasi bangunan Ka’bah  atau ada yang menyebut   membangun Ka’bah bersama anaknya yaitu Nabi   Ismail, beliau berdoa :

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

 Ya Rabb kami terimalah amal kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Doa ini adalah potongan dari surat al Baqarah 127.

(2) Doa yang diajarkan Rasulullah salallahi wasallam dan biasa beliau baca  selesai shalat  subuh yaitu dalam rangkaian dzikir pagi :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah aku bermohon ilmu yang bermanfaat, rizki  yang  baik dan amalan yang diterima. (H.R. Ibnu Majah no. 925).

Apakah amal ibadah seorang hamba diterima tentu Allah Ta'ala yang Mahatahu. Tetapi ada ulama yang menjelaskan tentang TANDA TANDA AMALAN SEORANG HAMBA DITERIMA, diantaranya :

(1) Syaikh Muhammad bin al Mukhtar asy Syinqithi.

Beliau berkata : Jika seorang hamba beramal lalu dia istiqamah, diberi taufik untuk terus menjaga amal tersebut maka ini TANDA TERKUAT  bahwa amalnya diterima. Jika ada seorang hamba menjaga shalat dan tidak pernah menelantarkannya, semangat untuk berada di shaf pertama, dia tidak pernah meremehkannya.

Jika seorang hamba selalu terdepan dalam kebaikan, selalu rindu untuk beribadah, tidak kendor, tidak berkurang, tidak putus semangat, tidak futur atau lalai, KETAHUILAH BAHWA (ITU TANDA) AMALNYA DITERIMA. (Shahih Fiqih.Com)

(2) Imam Ibnu Rajab al Hambali.

Beliau berkata :  Sesungguhnya  jika Allah Ta’ala  MENERIMA AMAL IBADAH SEORANG HAMBA  maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shalih setelahnya. 

Sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka, yaitu ulama salaf : Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah  Ta’ala untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu MERUPAKAN PERTANDA diterimanya amal kebaikannya yang pertama.

Sebagaimana, barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia  mengerjakan perbuatan buruk setelahnya, maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut. (Latha’if Ma’aarif).

Wallahu A'lam. (3.364)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


ENGKAU RUGI JIKA TERGESA GESA BANGKIT DARI SUJUD

 

ENGKAU RUGI JIKA TERGESA GESA BANGKIT DARI SUJUD

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, sujud adalah salah satu rukun dalam shalat fardhu dan shalat sunnah, kecuali shalat jenazah Ketahuilah bahwa ketika bersujud posisi seorang hamba benar benar mununjukkan kerendahannya di hadapan Khaliq-nya.

Bagaimana tidak, kepala yang menjadi salah satu bagian paling penting pada tubuh dan berada di paling atas tubuh,    lalu  diposisikan begitu rendahnya hingga sampai ke tanah ketika sujud.

Ketika sujud dalam shalat, ada sebagian saudara saudara kita yang cepat bahkan sangat cepat bangkit dari sujud. Dengan begitu mereka telah rugi karena tak mengambil manfaat dari posisi sujudnya, diantaranya :

Pertama : Kehilangan tuma'ninah.

Sungguh tuma'ninah adalah salah satu rukun dalam shalat. Ketika seseorang tergesa gesa dalam sujudnya maka yang dikorbankan adalah tuma'ninahnya. Rasulullah telah mengingatkan bahwa orang yang mengabaikan  tuma’ninah disebut sebagai sejahat jahat pencuri dalam shalat. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 


أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا

Sejahat jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya. Mereka (para sahabat) bertanya : Bagaimana dia mencuri dalam shalatnya ? Beliau menjawab : (dia)  tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. (H.R  Imam Ahmad, lihat Shahihul Jami’).

Selain itu ketahuilah bahwa  jika kehilangan tuma'ninah bisa jadi shalat seseorang tak bernilai atau bernilai sangat rendah.  

Kedua : Seolah olah tidak suka berlama lama berada paling dekat dengan Allah Ta'ala.

Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan dalam sabda beliau bahwa seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika sujud, beliau bersabda : 

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدُ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ

Sedekat-dekatnya seorang hamba dari Rabb-nya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa (pada waktu itu)H.R Imam Muslim.

Selain itu, dari zhahir hadits ini juga diketahui bahwa jika seseorang tergesa gesa bangkit dari sujud maka dia KEHILANGAN KESEMPATAN UNTUK BERDOA. Sungguh doa yang dipanjatkan ketika sujud adalah diijabah. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Adapun (di waktu) sujud maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa padanya, karena layak untuk dikabulkan doamu (pada waktu itu). H.R Imam Muslim.

Ketiga : Tidak mengambil kesempatan untuk digugurkan dosa ketika sujud.

Ketahuilah bahwa ketika seorang hamba shalat lalu Allah Ta'ala menempatkan dosa  dosanya di kepala dan di pundaknya. Dosa dosa itu berguguran  saat  dia rukuk dan sujud. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي أُتِيَ بِذُنُوبِهِ فَوَضَعَتْ عَلَى رَأْسِهِ أَوْ عَاتِقِهِ فَكُلَّمَا رَكَعَ أَوْ سَجَدَ تساقطت عنه

Sesungguhnya, tatkala seorang hamba berdiri shalat, didatangkanlah seluruh dosanya, kemudian diletakkan di atas kepala dan kedua pundaknya, maka ketika ia rukuk dan sujud, dosa-dosa tersebut berguguran. (H.R Ibnu Hibban, ath Thabrani, dan yang selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah).

 Dari zhahir hadits ini kita mengambil  pemahaman bahwa sungguh rugi seseorang yang terburu bangkit dari sujudnya karena dosa dosa yang ditempatkan di kepala dan di pundaknya bisa jadi belum sempat berguguran.

Wallahu A'lam. (3.361).    

 


DZIKIR SETELAH SHALAT FARDHU SEBAGAI PENGHAPUS DOSA

 

DZIKIR SETELAH SHALAT FARDHU SEBAGAI PENGHAPUS DOSA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, setiap hamba  banyak berbuat dosa. Hal ini dijelaskan Allah Ta’ala dalam satu hadits qudsi, :   

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di malam dan siang hari, dan Aku akan mengampuni seluruh dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni dosa-dosa kalian. (H.R Imam Muslim).

Sungguh Allah Ta’ala Maha Pengampun, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya. Sungguh Dia-lah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S az Zumar 53).

Oleh karena itu, kewajiban utama setiap hamba adalah senantiasa memohon ampun dan MELAKUKAN IBADAH yang disyariat sebagai salah satu jalan untuk penghapus dosa.

Ketahuilah bahwa ada banyak amalan yang disebutkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam sebagai PENGHAPUS DOSA MESKIPUN DOSA ITU SEBANYAK BUIH DI LAUTAN. Satu diantaranya adalah membaca dzikir setelah shalat fardhu. Beliau  bersabda :

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barangsiapa bertasbih (mengucapkan Subhanallah) di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali, bertahmid (mengucapan Alhamdulillah) sebanyak 33 kali, bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar) sebanyak 33 kali lalu sebagai penyempurna (bilangan) 100 ia mengucapkan : ‘Laa ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir (tiada yang berhak disembah dengan haq selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Aku akan mengampuni dosa-dosanya sekalipun SEBANYAK BUIH DILAUTAN. (H.R Imam Muslim).

Oleh karena itu hamba hamba Allah janganlah terburu buru meninggalkan tempat shalat setelah salam.  Hendaklah tetap tinggal di tempat shalat paling tidak untuk membaca dzikir setelah shalat fardhu sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim tersebut diatas.

Sungguh,   dzikir setelah shalat fardhu adalah termasuk sunnah Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Ketahuilah saudaraku, ketika seorang hamba menghidupkan sunnah Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  maka  dia sangat beruntung. Bahwa salah satu cara mencintai beliau dan AKAN BERSAMA BELIAU DI SURGA adalah dengan menghidupkan sunnah, sebagaimana sabda beliau :

 من أحيا سنتي فقد أحبني ومن أحبني كان معي في الجنة .

Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku maka dia telah mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku maka dia akan bersamaku di surga. (H.R at Tirmidzi).

Wallahu A'lam. (3.360).

 

 

 


KESEMPATAN MEMOHON AMPUN DAN BERDOA DI 1/3 MALAM TERAKHIR

KESEMPATAN MEMOHON AMPUN DAN BERDOA DI 1/3 MALAM TERAKHIR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu waktu yang selalu ditunggu tunggu oleh orang orang shalih adalah sepertiga malam terakhir. Ini termasuk waktu untuk beribadah bagi mereka  terutama melakukan shalat malam. Dan memang shalat malam adalah kebiasaan orang orang shalih dari dahulu.

Diantaranya adalah kebiasaan  Abu Hurairah dengan shalat malamnya. Abu Utsman an Nahdi, dia berkata : Aku pernah bertamu pada Abu Hurairah beberapa hari. Aku lihat Abu Hurairah, istrinya dan pembantunya senantiasa membagi malam menjadi tiga untuk shalat. Apabila yang satu telah shalat lalu membangunkan yang lain. (Kitab Hilyatul Auliyaa’).

Sungguh, shalat malam adalah SHALAT PALING UTAMA SETELAH SHALAT FARDHU. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan perkara ini dalam sabda beliau :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الصلاة أفضل بعد المكتوبة؟ قال: (الصلاة في جوف الليل

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya, shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu  ?. Beliau  menjawab : Shalat yang paling utama  setelah shalat fardhu adalah shalat (sunnah) di tengah malam. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Selain itu, ketahuilah bahwa hamba hamba Allah SANGAT DIANJURKAN untuk banyak memohon ampun dan berdoa di sepertiga malam terakhir. Inilah kesempatan yang sangat baik, sebagaimana Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah Ta'ala berfirman : Barangsiapa YANG BERDOA kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa YANG MEMOHON AMPUN kepada-Ku, niscaya Aku ampuni. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim).

Tentang hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menjelaskan : Demikianlah Allah 'Azza Wajalla turun ke langit dunia dengan cara yang layak bagi-Nya tanpa bisa dimisalkan juga digambarkan tentang turun-Nya itu. Karena Allah 'Azza Wajalla lebih tahu tentang diri-Nya dan Allah tidak pernah memberi tahukan hakikat sifat-Nya dan melarang kita untuk membuat permisalan tentangnya. (Al amal ash Shalihat La Tanqathi' Binqitha'i Ramadhan).

Selain itu ada satu hadits tentang dikabulkan doa pada waktu tertentu di malam hari yaitu  dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَـةً، لاَ يُوَافِقُهَا رَجُـلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ.

Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu tertentu, yang bila seorang muslim memohon kepada Allah dari kebaikan dunia dan akhirat pada waktu itu, maka Allah pasti akan memberikan kepadanya, dan hal tersebut ada di setiap malam. (H.R Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.359)

 

 

  



HAMBA ALLAH BERLINDUNG DARI API NERAKA DENGAN SEDEKAH

 

HAMBA ALLAH BERLINDUNG DARI API NERAKA DENGAN SEDEKAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Bersedekah adalah suatu perbuatan atau amalan yang sangat sangat dianjurkan dalam Islam meskipun tidak diwajibkan.  Allah Ta'ala memerintahkan hamba hamba-Nya untuk berinfak atau sedekah sebagaimana  firman-Nya : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَٰعَةٌ ۗ وَٱلْكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Wahai orang orang yang beriman !. Infakkanlah sebagian dari rizki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Orang orang kafir itulah orang yang zhalim. (Q.S al Baqarah 254).

Imam al Jurjani dalam at Ta’riifaat berkata : Makna sedekah secara istilah adalah : Pemberian yang diniatkan  untuk mencari ganjaran pahala di sisi Allah Ta’ala. Imam an Nawawi berkata : Disebut sebagai sedekah karena ia merupakan kepercayaan pelakunya dan kebenaran (shidq) keimanannya, baik lahir maupun bathin maka sedekah itu adalah (menunjukkan) keyakinan kebenaran imannya. (Syarah Shahih Muslim). 

Ketahuilah bahwa sungguh sangatlah banyak keutamaan berinfak atau bersedekah. Diantaranya adalah untuk membentengi diri dari api  neraka, Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :  

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ ذَكَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ ثُمَّ ذَكَرَ النَّارَ فَتَعَوَّذَ مِنْهَا وَأَشَاحَ بِوَجْهِهِ قَالَ شُعْبَةُ أَمَّا مَرَّتَيْنِ فَلَا أَشُكُّ ثُمَّ قَالَ اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Dari Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah menyebutkan tentang neraka, kemudian berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Kemudian menyebutkan neraka lalu berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya.

Kemudian menyebutkan neraka dan berlindung diri darinya dan mengekspresikan dengan wajahnya. Syu’bah berkata: kemungkinan dua kali, lalu saya tidak ragu. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Hindarkan dirimu dari neraka walaupun hanya dengan separoh butir kurma, jika tidak ada maka dengan tutur kata yang baik.  (Muttafaq 'alaih)

Dalam redaksi dari Imam Muslim, disebutkan : 

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنَ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Siapa di antara kalian yang mampu membentengi diri dari neraka walau dengan separoh butir kurma hendaknya ia lakukan.

Dan juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma. Apabila tidak mendapatinya maka ucapkanlah kalimat yang baik. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Selain itu ketahuilah bahwa bersedekah HARUSLAH DENGAN HARTA DARI HASIL USAHA YANG BAIK. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  bersabda : 

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهَا كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

Barangsiapa yang bersedekah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik, sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana seseorang merawat anak kudanya hingga ia menjadi seperti gunung yang besar. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.358)


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia